Tuesday, August 21, 2007

Kristianus 'Atok': Instilling nonviolence via education

The Jakarta Post
Tuesday, July 25, 2006
Alpha Amirrachman, Contributor, Pontianak

During his childhood, Kristianus "Atok" lived in the village of Setom, Hulu District, Landak Regency, West Kalimantan, where about 70 percent of its 200 population were Madurese. He was an indigenous Catholic Dayak, yet he mingled with the Muslim Madurese children very well. "Just as with any other kids, I played excitedly with them. "I had several good Madurese friends of whom I have unforgettable memories," Atok recalled during a recent discussion. It was organized by the International Center for Islam and Pluralism in collaboration with the European Commission and the Forum for Interfaith and Cultural Dialog of Borneo, in Pontianak.

It is because of this that Atok felt extremely uncomfortable when the Madurese were forced to leave the village during the escalated tension between Madurese and Dayaks in the 1980s. There were several physical attacks against the Madurese and their property as they were usually stereotyped as aggressive and economically dominant. The Madurese gradually left the village, sold their land and resettled in Pontianak or other areas. Atok lost his Madurese friends. But the ethnic unrest, mainly between the Dayaks and Madurese, flared again in 1999 and was recorded as one of the most massive conflicts in the island; it saw roughly 15,000 Madurese flee to Madura. The conflict started when a group of Madurese stabbed two Dayak teenagers in 1996; this was followed by thousands of Dayaks running amok in the western districts of West Kalimantan, destroying much Madurese business property, including crops and market stalls.

The ethnic tensions are generally attributable to the opening up of the forest for immigration programs, plus logging, mining and trading, which have resulted in increased competition for skilled jobs in the province and have pushed Dayaks to the margins. However, the image that the indigenous Dayaks are inferior and unskilled began to be portrayed during the colonial period of the Dutch and was intensified during the New Order government with its massive development approach. Atok joined a non-governmental organization (NGO) that was concerned with the empowerment of Dayaks during his time as a student in the agriculture faculty at the University of Tanjungpura. However, he resigned as he felt uncomfortable with the single-ethnic orientation of the organization. He completed his master's degree in sociology from the same university, writing a thesis titled Social interaction among the Dayaks and Madurese in Sebangki District. After the 1999 riot, he and other concerned intellectuals representing a variety of ethnic groups initiated a civil society community meeting that included student, NGO and women activists. They set up an NGO, Nusantara Empowerment of People-Forest-Reefs Foundation (YPPN), on August 20, 2000. It was a multiethnic body with the vision of promoting democracy based on wisdom, equality and plurality; Atok was elected as its chairman. YPPN is currently preoccupied with activities concerning the strengthening of fragmented society. "We shall never be able to preserve our natural resources or make use of them professionally and responsibly if people are fragmented and keep fighting or competing for their share by any means," said Atok. Collaborating with other institutions and funding agencies such as Frederich Naumann Stiftung, TIFA and Cordaid, YPPN has run a wide range of programs. These include a network for nonviolent community action, a study of traditional land tenure rights and a community seed bank. Also covered have been multiethnic community facilitation, training for community leaders and for radio coverage of the 2004 general election, joint economic and cultural activities, a kampong library and education that stresses nonviolence. Asked which program he thought the most rewarding, he answered nonviolence education, which involves 30 senior high schools from three regencies: Landak, Bengkayang and Pontianak. Activities in the program include camping, a children's jamboree and intercultural visits. He recalled that during the visits some students were asked to stay with families of different ethnicity. Some Dayak students cried, as they were so terrified that the Madurese would be rude or hurt them." "But it turned out that the Dayak students and the Madurese families got along together very smoothly during the three-day stay. They shared jokes and often burst into laughter. "The stereotypes seem to be gradually broken down -- it had to start with children because their involvement from a young age has a long-term impact in the future," said Atok who was born on Aug 28, 1966, and is married to Magdalena. They have three children. Indeed, Atok's fond childhood memories of good relations with Madurese friends may still linger, but expanding this to wider communities that are dogged with entrenched stereotypes and prejudices requires patience and much hard work by all parties concerned. "I cannot do it alone," Atok observed.

Monday, August 06, 2007

SYAIR KHUSUS BUAT KASIM

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA (dari Kembalikan Indonesia Kepadaku) 1979

I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964
pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang 15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa memintanya pulang.
IPB memanggilnya untuk merampungkan studinya, tapi semua sia- sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Orang-orang menggali tali air irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi
Kasim Arifin, di Waimital Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki 20 kilo sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija Sawah dan ladang
Orang-orang desa Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani mengaji
Ayat-ayat alam
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dikais-kaisnya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-mayur yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami ...
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang Kami memelukmu.

[Catatan: Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya. Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerubunginya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya].

LEBIH JAUH DENGAN "Antua" Kasim Arifin

DIA di Waimital jadi petani/ Dia menyemai benih padi/ Orang-orang menyemai benih padi/ Dia membenamkan pupuk di bumi/ Orang-orang membenamkan pupuk di bumi/ Dia menggariskan strategi irigasi/ Orang-orang menggali tali air irigasi/ Dia menakar klimatologi hujan/ Orang-orang menampung curah hujan/ Dia membesarkan anak cengkeh/ Orang kampung panen raya kebun cengkeh//

Penggalan puisi di atas ditulis Taufiq Ismail pada tahun 1979, menggambarkan sosok Moehd Kasim Arifin, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Pertanian, yang membenamkan diri selama 15 tahun bersama warga transmigran di Pulau Seram, Maluku. Sebagai peserta program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) untuk menyosialisasikan Panca Usaha Tani, Kasim dengan gigih dan tanpa pamrih mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga Desa Waimital. Kasim membangkitkan swadaya masyarakat membangun Waimital, membuka jalan desa, mencetak sawah, membuat irigasi, tanpa sepeser pun dana dari pemerintah. Kebersahajaan, kedermawanan, dan kelembutan tutur katanya membangkitkan rasa hormat penduduk setempat kepadanya. Ia pun disapa sebagai Antua (sapaan untuk orang yang dihormati di Maluku).

Ia baru tergerak untuk kembali ke almamaternya setelah tiga kali Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Andi Hakim Nasution mengirim utusan menjemputnya ke Waimital. Pada hari wisuda, 22 September 1979, Kasim menerima gelar insinyur istimewa.
Kisah perjalanan hidup Kasim selama di Waimital hingga kembali ke Kampus Darmaga kemudian ditulis oleh jurnalis Hanna Rambe dalam sebuah buku berjudul Seorang Lelaki di Waimital (Penerbit Sinar Harapan: 1983).

Ketika kemudian pulang ke kampung halamannya, Aceh, ia diterima sebagai staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Di samping mengajar, ia aktif mengelola Pusat Studi Lingkungan yang ia dirikan bersama beberapa rekannya. "Saya diminta jadi dosen, padahal saya ingin terus bertani," ujarnya. Ia pensiun dengan golongan III-C pada tahun 1994.
Setelah lepas dari kesibukan kampus, penerima penghargaan Kalpataru tahun 1982 itu bergabung dalam Unit Manajemen Leuser (UML) sebagai tenaga lapangan. Tugasnya antara lain memberikan penyuluhan kepada masyarakat di Kawasan Ekosistem Leuser agar ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Apa yang mendorong Anda tetap konsisten dalam kegiatan konservasi?
Saya melihat sumber daya alam yang tersedia tidak pernah bertambah, malah semakin berkurang. Populasi manusia yang semakin besar dengan ketergantungan yang amat besar pula terhadap sumber daya alam untuk kelangsungan hidupnya mengakibatkan terjadinya tekanan terhadap sumber daya alam itu.

(Kasim lalu memperlihatkan catatan berisi angka-angka laju kerusakan hutan di Indonesia, yang mencapai rata-rata tiga juta hektar per tahun. Lebih detail lagi, Kasim menghitung laju kerusakan hutan per detik, yang menunjukkan angka 965 meter persegi. Khusus di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saja, laju kerusakan hutannya rata-rata 200.000 hektar per tahun atau 62,23 meter persegi per detik).

Dengan laju kerusakan hutan yang begitu besar, ternyata rehabilitasi hutan hanya rata-rata 70.000 hektar per tahun. Sementara pertambahan penduduk yang rata-rata tiga juta jiwa per tahun pada kenyataannya justru mempercepat laju kerusakan hutan, bukan memperbesar rehabilitasi hutan.

Mengapa rehabilitasi hutan tidak mampu mengimbangi laju kerusakan hutan?
Ya, karena itu tadi. Manusia hanya mengeksploitasi hutan, tetapi tidak punya kepedulian untuk merehabilitasi.

Memang banyak program rehabilitasi yang dicanangkan pemerintah. Akan tetapi, apakah itu efektif dalam pelaksanaannya di lapangan? Kalau hanya fiktif? Kalaupun (rehabilitasi hutan) itu benar-benar dikerjakan, itu pun belum mampu menutupi kerusakan hutan yang terus berlangsung setiap hari.
Pekerjaan menanam pohon di hutan memerlukan suatu strategi yang mantap, dan itu belum terlaksana hingga saat ini.

Maksud Anda?
Kegiatan rehabilitasi hutan memerlukan orang-orang yang mau bekerja di hutan dan rela tinggal jauh dari jangkauan komunikasi. Dan itu jumlahnya sangat sedikit. Maka yang terjadi, bibit pohon ditanam lalu ditinggalkan. Itu pun tidak sampai ke kawasan hutan yang jauh, hanya yang dekat-dekat saja.
Bibit pohon yang ditanam harus dirawat minimal hingga usia lima tahun, baru bisa ditinggalkan. Tetapi yang terjadi adalah rehabilitasi dimulai dengan seremoni yang meriah, lalu diserahkan kepada alam untuk memeliharanya.
Apakah itu berarti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dicanangkan Presiden Megawati Soekarnoputri di Yogyakarta, Januari 2004, akan bernasib sama?
Saya rasa kalau dibilang iya, iya..., kalau dibilang tidak, ya... tahu sama tahulah. Sebab, kalau (penanaman pohon) itu tidak dikerjakan bisa saja. Buktinya bisa kita lihat di lapangan, yang ditanami hanya tempat-tempat tertentu yang mudah dijangkau untuk ditinjau pejabat.
Bayangkan kalau misalnya yang harus ditanami luasnya 70.000 hektar, lokasinya jauh dan sulit ditempuh karena kondisi jalan rusak parah. Untuk menembus ke sana orang-orang pasti enggan, maka dianggap saja sudah dikerjakan.

Bagaimana seharusnya menebus satu pohon yang ditebang agar keseimbangan alam tetap terjaga?
Kalau bisa menebang, semestinya bisa menanam juga. Tetapi yang terjadi adalah hutan pasti ditebangi, tetapi tidak ada kepastian penanaman kembali.
Perlu diketahui bahwa penanaman kembali tidak akan mengembalikan alam pada kondisi semula. Hutan yang kita lihat sekarang adalah ciptaan Tuhan yang usianya di atas ratusan tahun, bahkan jutaan tahun. Ketika pohon-pohonnya kita tebangi, ekosistem pasti terganggu. Lahan yang tadinya tertutup kanopi pepohonan menjadi terbuka sehingga akan terjadi proses macam-macam, seperti erosi dan kemusnahan flora dan fauna yang tadinya hidup di areal tersebut. Untuk memulihkannya, butuh waktu ratusan tahun dan tidak mungkin lagi kembali menjadi hutan perawan.
Pemerintah sudah bikin pola tebang pilih hutan Indonesia. Artinya, menebang yang sudah cukup umur dengan ukuran diameter tertentu dan setelah itu menanam kembali. Akan tetapi itu tidak terjadi karena lemahnya penegakan hukum di negara kita ini.

Apa akibat dari penggundulan hutan itu?
(Ingatan Kasim lalu menerawang pada masa ia kuliah, tahun 1957, di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia-bakal Institut Pertanian Bogor. Ia teringat pada dosennya, Prof Lundquist, warga Swedia yang ahli tanaman tropika).
Suatu hari Prof Lundquist menjelaskan kepada saya. Sim, katanya, daerah Anda ini daerah tropika yang sangat kaya flora dan fauna. Tetapi daerah Anda ini macam begini... (Kasim menunjukkan puncak kepalan tangannya) bergunung-gunung dengan lembah dan jurang. Ini berarti sedikitnya 30 persen permukaan Bumi di Indonesia harus ditutupi tumbuhan agar tidak terjadi erosi.
Jika kurang dari 30 persen, apalagi bila kawasan di hulu sungai sudah gundul, akan mengakibatkan musnahnya lapisan tanah untuk penyerapan air. Dengan begitu, tidak semua air terserap oleh tanah dan akhirnya mengalir deras ke bawah. Hutan tropika yang gundul akan menghancurkan serasah atau karpet tanah dan kehidupan mikroba.
Pada tanah terdapat serasah seumpama hamparan permadani yang berfungsi menyerap air. Cacing-cacing dan berbagai mikroba hidup dalam tanah dan membuat lubang ke permukaan tanah untuk mencari makanan. Berjuta-juta lubang membantu peresapan air ke dalam tanah. Proses peresapan alami itu tidak terjadi lagi di hutan gundul, sebab lapisan serasahnya tidak ada lagi. Rusaknya serasah mematikan cacing dan mikroba sekaligus membuat pori-pori tanah tertutup. Daya ikat tanah menurun mengakibatkan longsor.

PERTENGAHAN Maret lalu Kasim menelusuri ruas jalan Ladia Galaska, antara Pinding dan Lokop, yang pembangunannya memicu kontroversi. Ia salah seorang anggota tim terpadu yang ditugaskan pemerintah untuk mengkaji ruas jalan yang masih bermasalah itu.
Meski harus berjalan kaki berkilo-kilo meter keluar-masuk hutan dan perkampungan, Kasim yang memasuki usia 66 tahun (lahir di Langsa, Aceh Timur, 18 April 1938) tidak tampak kelelahan. "Pekerjaan saya memang seperti ini. Tahun 1960-an saya pernah melintasi jalur ini sampai ke Lokop," ungkapnya kepada Kompas saat istirahat makan siang di tepi sebuah sungai kecil.
Kawasan itu memang tidak asing lagi bagi Kasim yang bertugas sebagai Manajer Perwakilan Lapangan UML di Langsa, dengan wilayah kerja meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

Faktor apa yang paling menekan Kawasan Ekosistem Leuser?
Penebangan liar yang dibiayai pihak-pihak luar dengan memanfaatkan masyarakat lokal sebagai pekerja penebangan. Jadi praktik itu terencana oleh orang-orang berduit untuk meraup keuntungan lebih besar dari kayu-kayu itu tanpa mengeluarkan modal banyak. Sementara masyarakat sekitar yang butuh makan dipakai sebagai buruh saja.
Karena lemahnya penegakan hukum, yang sering kali menjadi tertuduh hanya orang kecil. Sementara cukong-cukong kayu itu tidak tersentuh.

Bagaimana dengan proyek jalan Ladia Galaska yang dituding sebagai ancaman terhadap Kawasan Ekosistem Leuser?
Belum ada data yang kuat untuk mengatakan seberapa besar dampak kerusakan lingkungan yang akan disebabkan oleh Ladia Galaska. Akan tetapi, dari pengalaman di berbagai tempat, dengan adanya jalan biasanya akan memacu orang untuk mengeluarkan sumber daya alam. Sebab satu ruas jalan yang dibuka akan diikuti dengan pembuatan cabang-cabang jalan. Itu akan mempermudah akses untuk mengambil kayu-kayu yang ada di hutan.
Mengapa sejumlah organisasi nonpemerintah menentang pembangunan jalan Ladia Galaska?
Kami tidak menentang pembangunan jalan yang tidak melewati kawasan konservasi. Jadi hanya ruas Ladia Galaska yang melewati hutan lindung yang kami minta supaya dikaji kembali.
Suatu daerah yang terdaftar sebagai hutan lindung, pemanfaatannya diatur oleh undang-undang. Tidak boleh sembarangan membikin jalan di situ. Dan harus ada dokumen amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), yang menunjukkan apakah layak atau tidak layak suatu jalan dibangun di situ.

Bukankah sudah ada amdal untuk Ladia Galaska?
Betul ada. Tetapi ibaratnya masakan, cara memasaknya kurang pas sehingga masakannya kurang enak. Amdal itu harus "dimasak" oleh orang-orang yang profesional sehingga mampu memprediksi apa dampak lingkungannya pada masa yang akan datang. Jangan dibuat sekadar saja.
Analisis dalam amdal yang ada sekarang itu lucu-lucu. Misalnya ada jenis hewan yang dikatakan hidup di sana, padahal tidak ada. Itu kan aneh. Dari mana dia dapat data itu.
Berkaitan dengan proyek Ladia Galaska, kaum konservasionis dianggap hanya peduli dengan flora dan fauna, tetapi mengabaikan manusianya. Apa tanggapan Anda?
Orang yang mengatakan seperti itu tidak mengerti konservasi. Pejabat-pejabat itu kalau diundang kursus tentang konservasi, yang dikirim hanya stafnya yang kroco-kroco. Si Kroco ini, setelah ikut kursus, tidak berani menyampaikan laporan hasil kursusnya kepada atasannya. Akhirnya Si Pejabat, karena tidak mengerti konservasi, omongannya terbalik-balik begitu.
Konservasi itu pada dasarnya memang untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup yang berisi flora dan fauna. Akan tetapi intinya untuk menyelamatkan manusia juga. Sebab kehancuran lingkungan akan berdampak pada kesengsaraan manusia.
Kenapa pemerintah membuat aturan soal hutan lindung? (Kali ini nada suara Kasim meninggi). Kenapa tidak marah kepada Pemerintah Indonesia yang mengeluarkan peraturan itu?
Tanpa aturan hukum, rakyat kita akan dibodohi terus tujuh turunan. Lihat saja, ketika ada bantuan pangan untuk pengungsi di Aceh, banyak yang tidak pernah kebagian. Malah bantuan pangan itu bisa dibeli di pasar.

Bagaimana memperkenalkan pengetahuan konservasi sejak dini?
Dengan memasukkan pengetahuan konservasi dalam materi pengajaran, paling tidak sejak sekolah dasar. Misalnya dengan membuat buku ajar untuk melengkapi buku pelajaran yang sudah ada. Kalau selama ini guru Biologi hanya menerangkan hewan dari fisiknya, maka sekarang diharapkan sekaligus memperkenalkan bahwa satwa tertentu itu masuk dalam kategori dilindungi.
Pengetahuan konservasi ini bisa disisipkan bukan hanya pada pelajaran biologi, tetapi juga dalam pelajaran Geografi, Agama, dan yang lain.
HARI-hari Kasim beberapa tahun belakangan lebih banyak dihabiskan di Kota Langsa (wilayah ini lepas dari Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2001), tempat ia berkantor. Bila tidak ada kesibukan, Kasim menyempatkan berbagi waktu dengan istri serta tiga anaknya di Banda Aceh pada akhir pekan.
Istrinya, Syamsiah Ali, seorang guru Bahasa Indonesia salah satu SMA di Banda Aceh. Anak sulungnya yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala baru berusia 19 tahun. "Saya telat menikah. Makanya di usia yang sudah tua begini, anak saya masih kecil-kecil," ujarnya.
Usia tidak menjadi kendala bagi Kasim untuk melakukan berbagai kegiatan bagi kemaslahatan orang banyak. Kasim bertekad akan bergelut dengan urusan konservasi, selama masih sehat dan mampu berbuat yang terbaik bagi sesama. Itu tidak lepas dari prinsip hidup yang ia pegang sejak dahulu: "Ilmu dan keterampilan yang Anda miliki saat ini, amalkanlah secara ikhlas berdasarkan niat yang baik".

Sahabat seangkatannya di IPB, penyair Taufiq Ismail, merasa perlu menyembunyikan wajahnya di Kali Ciliwung yang keruh karena malu kepada Kasim yang telah berbuat banyak dengan kerja nyata.

Dan kemarin di tepi Kali Ciliwung aku berkaca/ Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi/ Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku/ Ketika aku mengingatmu, Sim/ Di Waimital engkau mencetak harapan/ Di kota, kami...//

PEWAWANCARA: Nasru Alam Aziz
Kompas Minggu, 9 Mei 2004

Kasim- Sang Pahlawan

Mohamad Kasim Arifin (lahir 18 April 1938 di Langsa, Aceh Timur) adalah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, yang terdampar di Waimital, di bagian selatan Pulau Seram, Maluku selama 15 tahun.

Dikirim ke Waimital

Pada tahun 1964 Kasim dikirim oleh fakultasnya untuk menjalani program "Pengerahan Tenaga Mahasiswa" (semacam Kuliah Kerja Nyata sekarang) selama beberapa bulan di Waimital, dengan tugas memperkenalkan program Panca Usaha Tani. Namun yang terjadi malah ia begitu terlibat dengan pengabdiannya mengajar para petani setempat bagaimana meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Akhirnya ia lupa untuk pulang dan menyelesaikan skripsinya.
Kasim menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama-sama ia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, membuat irigasi, dan semua itu dilakukannya tanpa bantuan satu sen pun dari pemerintah. Masyarakat setempat sangat menghargai kesederhanaan, kedrmawanan dan tutur katanya yang lembut. Oleh masyarakat setempat, ia disapa sebagai Antua, sebuah sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku.

Panggilan untuk pulang
Sementara itu, orangtuanya gelisah dan bingung. Mereka meminta agar Kasim segera pulang namun permintaan itu tidak dihiraukannya. Demikian pula panggilan sekolahnya, bahkan rektor IPB sekalipun, Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, tidak dipedulikannya. Panggilan ketiga sekolahnya yang disertai oleh utusan khusus Rektor IPB, yaitu sahabatnya sendiri, Saleh Widodo, akhirnya berhasil menggerakkan Kasim untuk pulang dan menerima gelar insinyur pertanian istimewa, bukan karena ia berhasil mempertahankan skripsinya dalam sebuah ujian, melainkan karena ia telah menunjukkan baktinya selama 15 tahun tanpa pamrih dan gaji.

Wisuda istimewa
Kasim biasanya hanya bersandal jepit. Tapi pada hari wisuda itu, 22 September 1979 itu ia mengenakan jas, dasi dan sepatu, sumbangan teman-temannya, yang cuma membuatnya kegerahan. Taufiq Ismail, penyair Indonesia terkemuka yang juga teman kuliah Kasim, menghadiahinya dengan sebuah puisi yang berjudul: "Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang Pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya".
Dalam puisinya, Taufiq menuliskan renungannya:
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Selesai wisuda Kasim mendapatkan berbagai tawaran pekerjaan, namun yang dilakukannya malah kembali ke desa, ke Waimital. Baru setelah itu, Kasim menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, di Banda Aceh, meskipun hatinya tetap condong untuk mengabdikan keahliannya kepada para petani. Ia pensiun dari jabatannya sebagai dosen pada 1994.

Penghargaan
Pada tahun 1982 Kasim mendapatkan penghargaan "Kalpataru" dari pemerintah untuk jasa-jasanya membangun masyarakat desa dengan wawasan lingkungan hidup.

Keluarga
Kasim menikah dengan Syamsiah Ali, seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Banda Aceh. Mereka dikaruniai tiga orang anak. Anak sulungnya belajar di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. "Saya terlambat menikah," Kasim mengaku. Tidak mengherankan, karena sebagian hidupnya diabdikannya sepenuhnya bagi masyarakat Waimital.

Rujukan
Hanna Rambe, "Seorang Lelaki di Waimital", Penerbit Sinar Harapan, 1983