Friday, November 09, 2007

Kerajaan Portibi: The Forgotten Kingdom

By: Julkifli Marbun
source: http://humbahas.blogspot.com/2006/12/kerajaan-portibi-forgotten-kingdom.html

Kerajaan Portibi di tanah Batak merupakan kerajaan kuno yang sangat unik. Keunikannya terletak di berbagai segi. Keunikan itu misalnya dalam defenisi nama kerajaan tersebut; Portibi. Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. Jadi bila kita artikan Kerajaan Portibi secara leterleks maka berarti kerajaan dunia.Portibi adalah nama sebuah daerah yang menjadi nama sebuah kecamatan di Daerah Tingkat II Kabupaten Tapanuli Selatan. Berada di jantung wilayah Padang Lawas. Dulunya merupakan bagian dari wilayah Padang Bolak.Sebegitu hebatkah kerajaan ini dahulu sehingga disebut sebagai kerajaan dunia. Atau apakah kerajaan ini dulunya merupakan pusat dunia, misalnya dalam bidang tertentu seperti Tibet, yang menjadi pusat meditasi Buddha yang terletak di pegunungan Himalaya tersebut.Keunikan kedua adalah bahwa nama Portibi merupakan sebuah kata dalam bahasa Batak yang akarnya tidak diragukan lagi berasal dari bahasa sansekerta atawa Hindu. Portibi merupakan pelafalan Batak atas kata Pertiwi atau di India dikenal dengan nama Pritvi. Nama Pritvi ini sekarang dipakai menjadi nama sebuah rudal India. Dalam sejaran Hindu dikenal juga Dinasti Pertiwi yang dikenal dengan nama Pritvi Raj. Diduga, intrusi orang-orang Hindu secara organisasi kemiliteran terjadi hanya di daerah ini di tanah Batak.Untuk diketahui bahwa hubungan budaya dan ekonomi antara Batak dan India sudah berlangsung sejak dahulu kala. Namun itu lebih kepada hubungan person to person. Orang-orang India tidak datang bersama pasukan militer atau sebagai penjajah sebagaimana datangnya orang Eropa paska abad pertengahan.Namun, satu-satunya kontak, atau paling tidak daerah jajahan atawa vassal kerajaan yang pernah dibuat orang Hindu secara langsung adalah di sekitar kerajaan Portibi ini. Kerajaan Hindu tersebut diduga didirikan oleh Raja Rajendra Cola yang menjadi raja Tamil, yang Hindu Siwa, di India Selatan yang menjajah Sri Langka.Argumentasi mengenai kedatangan orang Hindu tersebut diduga berdasarkan kepentingan ekonomi dalam perebutan sumber emas yang menjadi komoditas berharga saat itu. Kerajaan Portibi yang sekarang itu, terletak di tanah Batak Selatan yang sangat dikenal sejak zaman kuno sebagai tanah emas karena di wilayah ini sangat mudah didapati emas dengan hanya menyiramkan air ke tanahnya.Orang-orang Hindu tersebut mendarat melalu pelabuhan Natal yang sejak zaman kuno sudah disinggahi oleh Bangsa Phonesia (Funisia), sebelum zaman Romawi dan Yunani untuk membeli produk-produk emas. Di zaman tersebut tanah Batak Selatan melalui pintu pelabuhan Natalnya dikenal dengan istilah "Ophir El Dorado".Berbeda dengan Barus yang menjadi pintu masuk ke Tanah Batak dari sisi Barat yang lebih dikenal dengan produk al-Kafur al-Fansuri nya yang banyak disinggahi oleh pembeli dari berbagai penjuru dunia. Produk tersebut bahkan mendapat minat yang sangat tinggi pada era dan oleh King Solomon alias Nabi Sulayman, saat dia ingin memikat hati Ratu Balqis. Barus dan Natal merupakan daerah yang sangat diminati untuk didatangi dengan produk-produk langkanya yang terdapat dalam jumlah yang besar. Bahkan tanah Batak sangat dikenal juga sebagai tanah yang paling disukai oleh 'tuhan' karena hanya di inilah tumbuh sebuah pohon yang sangat disukainya dan dipakai untuk berkomunikasi dengan 'tuhan' tersebut oleh pemujanya; yakni kemenyan yang bermutu tinggi.Tidak diketahui secara pasti apakah Rajendra Cola bermaksud mendirikan kuil nya di tanah Batak ini karena posisinya sebagai ' pusat tanah tuhan' atau bukan. Namun sejauh buku sejarah menduga bahwa argumentasi yang paling logis adalah untuk menguasai arus perdagangan dengan menjajah sumber utamanya.Ekspedisi pasukan Rajendra Cola dimulai lebih kurang tahun 1100M atau ada yang bilang tahun 1025M, dengan menyisir pantai Natal, terus masuk ke daerah-daerah sekitar sungai Barumun, Padang Lawas yang sekarang dikenal dengan Portibi dan beberapa wilayah di sekitar Sungai Batang Angkola di Angkola setelah menguasai Sri Langka. Di sekitar daerah tersebut mereka mendirikan kerajaannya dimana sebelumnya telah eksis masyarakat tambang Batak dengan pendatang dari berbagai penjuru dunia terutama dari masyarakat Hindu. Mereka mendirikan koloni lengkap dengan Candi yang sekarang dikenal dengan Biara Sipamutung, sebuah Hindu Temple Complex yang diperkirakan jauh lebih besar dari komplek candi hindu Prambanan di Pulau Jawa.Pendirian kerajaan tersebut yang lengkap dengan sistem pemerintahannya sendiri semakin mengundang banyak penambang emas dari India untuk bermukim dan menjadi penambang. Sampai sekarang di daerah Portibi, masih terdapat Candi Bahal I, III dan III. Masih di daerah yang dinamakan Bahal tersebut terdapat sebuah candi terletak di pinggir sungai Batang Pane, sekitar 300 meter dari candi Bahal I. Candi-candi juga terdapat pada desa Bara, Aloban, Rondaman Lombang, Saba Sitahul-tahul dan lain sebagainya. (Lihat: Djamaluddin Siregar, Pertentangan Kaum Adat dan Agama di Kecamatan Portibi dan Kontribusi Pesantren dalam Mencari Solusi, Thesis di Program Paska Sarjana IAIN Sumatera Utara, 2005, hal. 14)Terdapat juga bendungan kuno raksasa yang terdapat di desa Aloban (rura Sitobu). Bendungan ini berukuran panjang hempangan sekitar 150 meter, lebar di bawah sekitar 15 m, sedang di atasnya masih tersisa sekitar 7 meter. Berhubungan dengan bendungan tersebut terdapat juga bendungan ukuran sedang di Sihaborgoan. Kedua bendungan tersebut tidak lagi diketahui oleh masyarakat sejarahnya karena diperkirakan seumur dengan candi-candi tersebut. Diduga bendungan yang dibangun masyarakat tambang Batak tersebut dihancurkan oleh Rajendra Cola saat akan menjajah wilayah tersebut. Perusakan tersebut ditujukan untuk memonopoli sistem pertambangan.Diduga masyarakat tambang Batak dengan penambang imigran khususnya dari India telah membuka daerah tambang di berbagai wilayah sekitar Portibi seperti, Gunung Tua, Batang Onan, Pijorkoling dan lain sebagainya.Semua bekas peninggalan tambang kuno tersebut, menjadi 'kampung hantu' yang terabaikan sekarang ini.Lalu mengapa Kerajaan Rajendra Cola tersebut menghilang begitu saja. Bagaimana ceritanya?. Sebenarnya ada dua kemungkinan dari informasi di atas.Pertama, Kerajaan Portibi telah lama eksis di Daerah tersebut yang menjadi Kerajaan Batak dari marga Siregar dan Harahap. Namun ekspedisi Rajendra Cola ke Sumatera telah menjajah daerah tersebut untuk memonopoli emas. Namun kekuatan pribumi Portibi berhasil mengusir eksistensi Kerajaan Rajendra Cola tersebut yang dikenal banyak orang dengan Kerajaan Aru Sipamutung dan mengembalikan kedaulatan Batak atas kerajaan tersebut sampai sekarang.Hipotesa kedua adalah Rajendra Cola datang hanya untuk menyerang Sumatera dan tidak sempat membangun pemerintahannya di daerah Batak. Sehingga eksistensi mereka hanya temporer dan tidak sempat mendirikan kerajaan baru yang permanen. Peristiwa penyerangan tersebut disebutkan dalam transkrip Tanjore dari Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama "Ilamuridesam yang sangat murka terlibat dalam perang" disebutkan menyerang beberapa wilayah di Sumatera sebagai daerah target-target penggempuran mereka pada tahun 1025. (K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), pp. 80, 81).Diduga kuat Rajendra Cola mengamuk karena perilaku Kerajaan Sriwijaya yang mewajibkan setiap pedagang yang melewati selat Malaka harus membayar pajak yang cukup tinggi. Sehingga, hal tersebut memaksa Rajendra Cola untuk mengirim ekspedisi militer menghancurkan Sriwijaya yang berimbas kepada penyerangan sumber-sumber tambang dan industri di kerajaan-kerajaan Batak.Terlepas dari cerita sejarah tersebut, Kerajaan Portibi telah menambah perbendaharaan peradaban Batak sebagai sebuah kerajaan marga Siregar dan Harahap yang menjadi daerah kaya akibat sumber tambang alam yang sangat kaya raya. Penemuan bendungan raksasan yang dihancurkan oleh Rajendra Cola tersebut, telah memperkaya sejarah arsitektur bangsa Batak.Heroisme bangsa Batak dalam menghadapi gempuran penjajah Rajendra Cola masih terdapaat dalam turi-turian rakyat di Kerajaan Portibi. Turi-turian tersebut mengisahkan sekilas mengenai semangat patriotisme Batak dipimpin oleh Tongku Malim Lemleman dan Ompu Jalak Maribu kontra pasukan marinir Rajendra Cola. Diduga saat itu sebagain besar masyarakat Portibi telah mengenal Islam sebelum abad ke-10 M, kata Malim sendiri merupakan istilah kuno paska kedatangan Islam yang mengacu kepada tetua adat atau yang mengerti adat dan ajaran agama. Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan gelarnya Malim Bosar. Orang-orang Islam Portibi, yang telah memeluk Islam sejak sebelum abad ke-10 tersebut, bersama sebagain kecil masyarakat yang masih dipengaruhi teologi Batak Hindu, menyatu menjadi golongan adat yang kemudian berhadapan dengan golongan Batak puritan dalam perang Padri di abad ke-19 M. Dikatakan armada laut Rajendra Cola mendarat di Situngir-tungir, suatu tempat di Sungai Batang Pane (Sungai Barumun), dekat dengan desa Sibatu Loting dan Bahal. Namun satu hal yang sangat disayangkan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai pembahasan turi-turian ini baik dari departemen pendidikan, kebudayaan maupun otoritas terkait lainnya.Menurut Jamaluddin Siregar, akibat dari kontak kultural antara masyarakat Batak dan Hindu ini terciptalah budaya dan adat Batak yang mempunyai spesifikasi dan karakteristik yang berbeda dengan budaya Batak umumnya. Dia beranggapan bahwa adat dan Budaya masyarakat di Kerajaan Portibi sebegitu uniknya sehingga menjadi kesatuan budaya dan adat yang berdiri sendiri atau paling tidak menjadi sebuah suk-kultur yang tipikal. Sampai sekarang, masyarakat Portibi merupakan masyarakat di tanah Batak yang paling memuliakan dan mempraktekkan hampir semua ajaran yang termaktub di Pustaha Tumbaga Holing. Beda dengan masyarakat Batak lainnya yang telah memodifikasinya sesuai dengan tuntutan zaman dan daerahnya. Tumbaga Holing sendiri disinyalir berasal dari kata tumbaga yakni tembaga dan holing yang berarti keling. Keling adalah panggilan kuno untuk orang India. Seperti istilah Coromandel yang berarti "keling country"Hal itu dikuatkan dengan penemuan prasasti Batak Purba (kuno) yang sudah diterjemahkan oleh Dr. Goris, Direktur Museum Bali pada tahun 1978, yang bertarikhs 1253. (Lihat: Harahap, Horja Adat Istiadat Dalihan Natolu, (Jakarta: Parsadaan Marga Harahap Dohot anak Boruna, 1993) h. 11.)Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Batak kuno lainnya, Kerajaan Portibi merupakan kerajaan yang sudah maju dengan sistem bendungan, irigasi dan persawahan selain tambang emas. Kerajaan ini telah dilengkapi dengan sistem pertahanan yang kuat dengan benteng-benteng yang terbuat dari batu berukit. tidak seperti di tempat lain di tanah Batak yang hanya terbuat dari batu gunung yang belum diolah.Diduga, kerajaan Portibi sangat erat kaitannya, atau paling tidak, merupakan sekutu dan aliansi kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Pane yang sangat masyhur di dunia Cina dan Arab kuno sebagai pintu masuk ke Sumatera dari arah Timur. Pelabuhan Kerajaan Pane, di sekitar wilayah Tanjung Balai sekarang, merupakan alternarif untuk mendapatkan kapur barus, kemenyan dan emas dari pedalam Sumatera yang dibawa dari daerah pedalaman dan pantai Barat melalui darat ke pantai Timur.

Thursday, November 08, 2007

Mandailing Antara Fakta Dan Legenda

WASPADA Online.
Oleh Farizal Nasution

Sejarah Mandailing di Sumatera Utara tidak bisa dipisahkan dalam lembaran legenda yang sampai kini terus hidup dan berkembang. Sebab dari Mandailing inilah lahirlah manusia-manusia Mandailing yang kini hidup beranak pinak sampai ke anak cucu.

Mandailing, menurut legenda berasal dari daerah Munda di utara India. Masyarakat Munda di utara India ini terpukul oleh serangan bangsa Aryan, lalu berpindah ke Burma di mana terdapat sebuah kota purba yang dinamakan Mandalay. Setelah sekian lama di sana mereka sekali lagi diusir ke luar oleh kaum asli Burma, lalu berpindah menyeberangi Selat Malaka hingga ke Sumatera. Menurut informasi yang sampai kepada penulis, masuknya bangsa Munda tersebut ke Sumatera melalui Pantai Barat Sumatera yaitu Pelabuhan Barus. Beberapa abad sebelum tahun Masehi, Barus sudah banyak didatangi berbagai bangsa, dan menjadi pelabuhan yang sangat terkenal karena kapur barusnya. Di Barus pula pada masa lalu pernah ditemui koloni etnis Tamil yang juga berasal dari India.

Menurut cerita yang berkembang pada abad keenam, orang-orang Munda ini telah berjaya mendirikan kerajaan bernama Poli di Pantai Timur Sumatera. Kerajaan ini juga dikenal sebagai Portibi atau Puni. Tetapi Kerajaan Munda Holing ini hanya bertahan sampai abad XVI. Pada sekitar tahun 1030 an kerajaan Hindia Selatan di bawah pimpiunan Maharaja Rajendera Chola menaklukan Portibi (Munda). Lalu masyarakat Munda berpindah ke Pidoli berhampiran Penyabungan yang ada sekarang ini. Di Pidoli ini mereka mendirikan sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Mandela Holing. Tetapi dari informasi lain ada yang menyebut asal nama Mandailing ialah bermula dari perkataan Mandalay, yaitu nama sebuah kota yang besar di Burma. Sebab di Burma utara terdapat sebuah kota kebudayaan atau pusat peradaban dan pemerintah yang bernama Mundalay yang hampir sama dengan Mandailing di Sumatera Utara.

Dalam perkembangan sejarah bahwa kerajaan Mandala Holing ini berjaya hingga abad XIII, sebab mereka diserang oleh kerajaan Hindu Singosari dari Tanah Jawa di bawah pimpinan Raja Kertanegara yang telah melancarkan expedisi Pemelayuan pada 1275. Namun, dalam waktu singkat orang-orang Mandala Holing ini telah berjaya mendirikan kerajaan mereka dan menjadi termashur. Kerajaan Hindu Majapahit pada masa lalu merasa tergugat dan cemburu karena kerajaan Mandala Holing menjadi kuat. Pada tahun 1365 kerajaan Hindu Majapahit menyerang Sumatera sekali lagi. Di dalam Sumpah Palapa Gajah Mada yang berbentuk syair Purba Jawa yang bertajuk Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca dan dijumpai di Puri Cakranegara Lombok terdapat pernyataan Mandailing itu sebuah negeri besar yang telah diserang. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Mandailing telah lama ada sebelum nama Batak tercatat di dalam peradaban sejarah.

Di dalam Sumpah Palapa disebutkan pasukan Majapahit mengekspansi ke Melayu di Sumatera merata sejak Jambi, Palembang, Muara Tebo, Darmasraya, Minangkabau, Siak, Kampar, Panai, Pulau Kampar, Haru dan Mandailing. Keberadaan Mandailing telah terlukis indah pada syair ke 13 Negarakertagamanya Prapanca yang agung. Pada masa itu Mandailing mempunyai masyarakat yang homogen yaitu masyarakat yang tumbuh dan terhimpun dalam suatu ketatanegaraan kerajaan dengan kebudayaannya yang sudah tinggi pada zamannya. Tanah Mandailing telah terkenal di nusantara ini sekitar tahun 1287 Caka (1365 M). Dalam catatan sejarah atas serangan Rajaendra Cola dari India pada 1023 M ke kerajaan Panai. Kerajaan Panai berlokasi di bagian hulu sungai Barumun atau di sepanjang aliran sungai Batang Pane mulai dari Binanga (pertemuan sungai Barumun dengan sungai Batang Pane) termasuk daerah Portibi di Gunung Tua hingga sampai ke lembah pegunungan Sibual-buali di daerah Sipirok. Ini ditandai dengan adanya anggota masyarakat yang bermarga pane di daerah Sipirok.

Dari informasi, nama Mandailing ada yang menduga berasal dari perkataan Mande Hilang dalam bahasa Minangkabau, perkataan tersebut berarti ibu yang hilang. Ada juga menyebutkan Mandailing berasal dari perkataan Munda hilang yang berarti Munda yang mengungsi. Bangsa Munda di India pada masa yang silam melakukan pengungsian karena mereka terdesak oleh bangsa Aria. Konon sebelum kedatangan bangsa Aria, bangsa Munda menduduki India Utara. Karena desakan bangsa Aria, maka bangsa Munda menyingkir ke Selatan. Pendudukan bangsa Aria itu terjadi di sekitar tahun 1500 sebelum Masehi. Bangsa Munda pindah ke luar dari daerah India menuju Assam dan Asia Tenggara setelah terjadi pendudukan lembah sungai Gangga oleh bangsa Aria dalam keseluruhannya.

Ketika terjadi perpindahan bangsa Munda dari India Utara ke Asia Tenggara oleh karena terdesak dari bangsa Aria, diduga ada sebagian yang masuk ke Sumatera melalui Barus.Mandailing memang sebuah kerajaan sehingga pada waktu dulu kerajaan ini disegani di seluruh nusantara bahkan dunia. Konon, kerajaan Mandailing memiliki kekuatan gaib untuk menumpas lawan lawannya. Namun pada saat yang kurang menguntungkan Datu Besar (guru besarnya) meninggal dunia sehingga kekuatan Mandailing lemah dan mereka kocar-kacir menyelamatkan diri ke wilayah lainnya. Dalam penelusuran penulis di daerah tersebut adanya sebutan Mandala pada beberapa buah pemukiman moyang marga Rangkuti dan Parinduri yakni Datu Janggut Marpayung Aji bernama Mandala Sena. Untuk menguasai daerah kerajaan tersebut pada abad XIV sebagaimana yang disebut dengan nama Mandala Hilang (Mandailing) di dalam buku Negarakartagama. Dalam penelusuran itu terdapat candi-candi dibangun sejak abad X dan XI. Bahkan sebagian candi-candi itu pembangunannya dimulai jauh seelum abad ke X.

Oleh sebab itulah besar kemungkinan kerajaan Mandala Holing yang meninggalkan daerah ini kemudian hari berubah nama menjadi nama Mandahilang (Mandailing seperti terdapat dalam buku Negarakertagama dengan nama Mandailing). Mandailing adalah suatu wilayah yang terletak di Mandailing Natal di tengah pulau Sumatera sepanjang jalan raja lintas Sumatra. Mandailing terbagi dua yaitu: Mandailing kecil, ulu dan Pakantan dan dua Mandailing Besar dan Batang Natal. Kemudian Mandailing dibagi dua walaupun adatnya sama yaitu Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Mandailing Godang didominasi oleh marga Nasution yang wilayahnya mulai dari Sihepeng di sebelah utara Penyabungan sampai Maga di sebelah selatan serta daerah Batang Natal sampai Muarasoma dan Muara Parlampungan di sebelah barat. Sedangkan daerah Mandailing Julu didominasi oleh marga Lubis yang wilayahnya mulai dari Laru dan Tambangan di sebelah utara Kotanopan sampai Pakantan dan Hutanagidang di sebelah selatan.

Dalam penelusuran penulis, marga Mandailing banyak. Seperti tersebut di bawah ini : Babiat di Tambiski, Napagadunglaut. Baumi di Marancar Dabuar di Nagasaribu, Portibi Dalimunthe di Muaratais, Sigalangan, Sihulambu, Lombu Tayas, Gunung Tinggi, Janjilobi. Dasopang di Silangge, Pangirkiran Daulae di Pintu Padang, Singkuang, Sipiongot, Siunggam, ringgonan, Hasahatan, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Julu, Sosa Jae, Aeknabara, Binabo. Dongoran di Sihulambu, Tapus (Padang Lawas), Silangge, Sipiongot, Mandalasena, Tambiski, Napagadunglaut, Halongonan. Harahap di Hutaimbaru, Sabungan, Simapilapil, Siharangkarang, Losungbatu, Hanopan, Batunadua, Pijorkoling, Napagadunglaut, Pangirkiran, Hasang, Parurean, Halongonan, Hajoran, Purbasinomba, Gunungtua (Padang Lawas), Pamuntaran, Siunggam, Nagasaribu, Batangonang, Gadu, Tabusira, Sayurmatinggi (Pasang Lawas), Padang dolok, sosopan, Simanosor, Padang Hanopan, Hasahatan, Sosa Jae, Siapas, Ujungbatu, Aeknabara, Portibi, Unterudang, Binanga, Huristak, Simangambat (Padang Lawas), Sidangkal, Pargarutan, Panyanggar, Simatontong, Sabatarutung, Pasar Matanggor, Sababalik. Hasibuan di Sihulambu, Batugana, Gunungtua (Padang Lawas), Paringgonan, Hasahatan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Julu, Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Siapas, Aeknabara, Unterudang, Binanga, Huristak, Simangambat (Padang Lawas), Ujungbatu, Barumun.

Hutasuhut di Lobu Layan, Sipirok
Lubis di Maga, Tambangan, Kotanopan, Manambin, Tamiang, Ulu, Pakantan Dolok, Pakantan Lombang, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Aeknabara. Nasution di Panyabungan Tonga, Panyabungan Julu, Gunungtua (Mandailing), Pidoli Dolok, Pidoli Lombang, Hutasiantar, Gunung Baringin, Lingga Bayu, Muara Parlampungan, Aeknan gali, Sosopan, Paringgonan, Hasahatan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Mondang, Pinarik, Siapas, Aeknabara, Unterudang Simangambat (Padang Lawas). Pane di Tapus (Padang Lawas), Napagadunglaut, Arse, gunung Manaon, Pangurabaan dan Lancat. Pasaribu di Tolang (Padang Lawas), Sosa Julu.Payung di Simundol Pohan di Gunung Tinggi, Simundol, Sipiongot, Nagasaribu, Huristak. Pulungan di Batang Toru, Sayurmatinggi (Batang Angkola), Hutanopan (Padang Lawas), Huta Bargot (Mandailing), Sumuran dan Silaia di Kecamatan Sipirok. Rambe di Tapus (Padang Lawas), Gunung Tinggi, Simundol, Sipiongot, Mandalasena. Rangkuti di Runding, Aekmarian.Ritonga di Sihulambu, Lobu Tayas, Tolang (Padang Lawas), Tapus (Padang Lawas), Gunung Tinggi, Sipiongot, Mandalasena, Tambiski. Sagala di Sihulambu

Simbolon di Sipiongot, Mandalasenan. Siregar di Baringin, Parausorat, Bungabondar, Napagadunglaut, Hajoran, Purbasinomba, Batugana, Pamuntaran, Siunggam, Nagasaribu, Batang Onang, Sayurmatinggi (Padang Lawas), Gunungtua (Padang Lawas), Pangkal Dolok, Sosopan, Janjilobi, Hutanopan (Padang Lawas), Sosa Jae, Portibi, Unterudang, Binanga, Marancar, Tambiski, Mandalasena, Janji Manaon, Simandiangin, Aek Bayur, Hopong. Tanjung di Lingga Bayu, Silangge, Mandalasena, Napagadunglaut.

Keberadaan Mandailing bukan datang dengan sendirinya tetapi mengalami suatu proses. Selepas Pidoli dibumi hangus, bangsa Munda yang bercampuraduk dengan penduduk asli telah membentuk marga Pulungan dan mendirikan kerajaan di Huta Bargot. Kerajaan ini telah dikalahkan oleh Sutan Diaru dari marga Nasution yang berasal dari Pagaruyung. Sutan Diaru mendirikan kerajaan di Panyabungan dan memerintah seluruh Mandailing Godang. Oleh karena Sutan Diaru itu adalah seorang putera yang ditemui di bawah pokok beringin di tepi Aek Batang Gadis ibunya pula tidak diketahui maka kerajaan tersebut dikenal sebagai kerajaan Mande Nan Hilang Mandehilang atau ibu yang hilang dan akhirnya sebutan tersebut menjadi Mandailing mengikut loghat orang minang.

Dalam syair Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tidak bisa dipisahkan dalam menyelusuri Mandailing sebab dalam syair ke-13 Kakawin terdapat kata kampe Harw athawe Mandailing i Tumihang Parlak mwang i Barat. Dengan adanya kata Mandailing merupakan bukti sejarah bahwa Mandailing menjadi perhitungan di nusantara ini. Sebab keberadaan Mandailing memang dijuluki sebagai wilayah yang kuat dan solid dalam peradabannya. Sebab nama Mandailing memang tidak ada duanya di Indonesia ini, unik dan misteri lagi. Dalam abad ke-14 sekitar tahun 1365 orang mandailing memiliki peradaban yang maju sehingga menjadi perhitungan bagi raja-raja Jawa. Sebelum lahirnya kerajaan Majapahit Mandailing telah ada walau sebuah kampung yang dihuni oleh beberapa orang dengan rajanya. Sehingga lama kelamaan kerajaan ini menjadi besar dan lahirlah kerajaan Majapahit yang memang besar dan kuat. Kerajaan Mandailing pada waktu itu memang besar di akibatkan oleh mas. Mas merupakan penghasilan penduduk sebab di wilayah ini memang kaya akan hasil tambangnya. Sehingga masyarakatnya makmur dan mampu menghidupkan dirinya sendiri. Tanpa harus expansi ke wilayah lain. Sehingga pada waktu itu Mandailing dikenal sebutan tano sere yang artinya tanah emas dalam cerita-cerita lama.

Daerah Mandailing Julu (kini disebut Kotanopan) sampai kini ditemukan tepat yang bernama garabak ni agom seperti di sekitar Huta na Godang. Nama itu diberikan kepada bekas tempat-tempat orang agam (Minangkabau) menambang mas di masa dahulu di Mandailing Julu, yaitu dekat Muarasipongi. Tano sere sebagai bukti Mandailing kaya dengan mas sehingga kerajaan Mandailing tetap jaya sebab tidak memerlukan bantuan dari wilayah lain untuk membangun kerajaannya. Nama Mandailing sebenarnya sudah disebut dalam kesusastraan Toba Tua yang klasik yang disebut di dalam Tonggo Tonggo Si Boru Deak Parajar yang terdiri dari 10 pasal. Di dalam kesusastraan tersebut tertulis Mandailing. Konon menurut cerita dalam buku Sutan Kumala Bulan yang ditulis oleh H. Mhd. Said menjelaskan sebagai berikut : Diperhatikan dari adanya bangunan bersejarah terdiri dari biaro-biaro di Padang Lawa dapat diyakini pertumbuhan masyarakat yang berbudaya di wilayah itu masih berabad-abad lebih tua dari zaman Prapanca. Serangan Rajendra Gola dari India di tahun 1023 – 24 M, antara lain ke Panai misalnya, menunjukkan perlunya suatu ekspedisi militer untuk menaklukkan kerajaan tersebut. Panai diperkirakan lokasinya di hulu sungai Barumun, ditandai dengan adanya nama Batang Pane dan anggota masyarakat yang bermarga Pane di Angkola Sipirok.

Bila menyelusuri jejak kerajaan Mandailing tidak bisa lepas dari kerajaan yang menguasai daerah mulai dari Portibi di Gunung Tua Padang Lawas sampai ke daerah Pidoli di Mandailing. Sebab semua pusat kerajaan ini terletak di Portibi Gunung Tua dengan adanya bukti-bukti candi-candi purba. Dengan serangan pasukan Majapahit karena melihat kerajaan Mandailing menjadi besar kemudian pusat pemerintahan kerajaan tersebut dipindahkan ke Piu di daerah Mandailing (dekat kota Panyabungan yang sekaang). Ini dibuktikan pada masa silam di daerah Pidoli ini terdapat juga candi-candi purba. Namun demikian bukti ini (candi-candi ini) keburu dihancurkan oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol ratusan tahun yang lalu. namun reruntuhan candi-candi masih membekas di beberapa tempat seperti di Saba Biaro Pidoli dan Simangambat yakni Pidoli terletak di Panyabungan dan Simangambat di Siabu. Dalam sebuah surat uang dikenal Surat Tumbago Holing berdasarkan informasi masyarakat memang ada tetapi belum diketahui orang. Menurut orang tua di daerah Mandailing bahwa surat Tumbago Hilang ialah surat perjanjian yang dibuat oleh seorang raja di Mandailing dengan Belanda. Bila surat itu ada berarti baru lahir abad ke XIX. Rasanya terlalu mudah kejadiannya. Namun ada yang menafsirkan Surat Tumbago Holing ini ialah surat Emas dari bangsa Keling suatu surat yang isinya mengajarkan kebaikan kepada masyarakat di tempat itu zaman dahulu kala sedangkan dari agama Hindu merupakan surat perjanjian yang berbentuk undang-undang untuk dihayati yang bersumber dari buku kepercayaan mereka. Konon dari cerita legenda yang berkembang sampai kini dan masih dipercaya masyarakat setempat pada zaman dahulu kala di mana pagi masih berkabut. Langit terlihat remang-remang berselimut awan kelabu. Burung-burung mulai berkicau menyambut sang surya di ufuk timur. Saat itu terlihat ibu-ibu dan gadis-gadis tanggung pergi ke tepian.

Mereka hendak mencuci atau sekedar mengambil air.
Dari kejauhan terlihat sekelompok orang-orang berjalan menyusuri jalan setapak. Bila diperhatikan gaya penampilan dan bahasanya mereka adalah orang-orang asing. Mereka terlihat berjalan kepayahan sebab sudah sangat jauh yang ditempuhnya. Mereka seolah-olah ketakutan. Mereka ada yang membawa barang miliknya, kayaknya seperti orang hendak mengungsi. Orang-orang bertanya-tanya tentang orang yang belum dikenal mereka. Sekelompok orang tadi mengenalkan dirinya mereka berasal dari negeri India Selatan. Datang ke sini untuk menyelamatkan diri. Sebab negeri mereka dalam bahaya karena diserang bangsa Aria. Mereka berharap dapat menginap di daerah sini yakni Mandailing. Orang kampung menyetujuinya sebab orang dalam kesusahan harus ditolong. Sekelompok orang tadi senang sekali sebab mereka juga menikmati sungai Barumun yang jernih dan bersih. Rupanya diantara mereka ada yang menemukan emas sewaktu bermain pasir di tepian. Benda itu berwarna kuning berkilau. Kalau begitu sungai ini banyak emasnya. Sebab harganya sangat tinggi.

Dengan ditemukanya emas tadi maka beramai-ramai mereka memulai mendulang emas. Mereka saling menyelusuri tepian sungai Batang Gadis. Ternyata mereka berhasil menemukan emas lagi. Tepian sungai yang semula sunyi itu makin hari bertambah ramai. Mereka menyelam ke sungai mencari barang berharga. Mendulang emas sebagai mata pencaharian. Makin hari bukan saja warga pengungsi, warga setempat juga turun mendulang emas. Bahkan orang-orang dari Minangkabau turut bagian. Mereka tidak mau ketinggalan untuk memperoleh emas murni yang sangat berharga itu. Terutama sekali para ibu-ibu yang di sana disebut mande. Dengan keadaan yang demikian menyebabkan tepian sungai Batang Gadis banyak mendirikan pondok-pondok. Sebab mereka terlalu jauh untuk ke kampungnya. Dari hari ke hari tepian sungai itu banyak berdiri rumah-rumah. Kebanyakan penghuninya bermata pencaharian mendulang emas. Sehingga tempat itu semakin terkenal. Dengan demikian tempat inilah asal berdirinya kerajaan kecil di Mandailing. Tepatnya sekitar tepian sungai Batang Gadis. Dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil, wajar menjadi sasaran penyerangan dari kerajaan lain.

Kerajaan Majapahit datang atas perintah Hayam Wuruk. Terjadilah peperangan kecil terjadi. Pasukan raja-raja di tepian Batang Gadis menghalau pasukan Majapahit. Mereka sama sama kuat. Bagaimanapun kecilnya peperangan, kerugian di pihak rakyat pasti ada. Mereka berhamburan meninggalkan rumah mereka. Untuk menyelamatkan diri, bermukim di tempat yang aman. Orang-orang Munda sebagai pengungsi tidak terhindar dari gangguan ini. Mereka turut pindah ke tempat lain. Saat itu penduduk asli mereka kehilangan sajabat karir sebab selama ini mereka sering mendulang emas bersama-sama. Dari kisah hilangnya orang-orang Munda ini, seolah-olah mereka kehilangan sehingga mereka menyebut Munda Hilang. Dan dari tahun ke tahun kata-kata Munda. Hilang menjadi Mandailing.